Beberapa waktu lalu membersamai keluarga besar dari istri untuk berziarah ke makam kakek buyutnya di Sukabumi dan Cianjur. Untuk lokasi tempat ziarah di Cianjur yaitu ke makam Syekh Abdul Jalil di Cibaregbeg, sedangkan tempat ziarah di Sukabumi yang dikunjungi yaitu ke komplek makam keluarga Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein atau juga dikenal dengan nama Mama Cimuncang yang beralamat di Kampung Pesantren, Kebon Pedes.
Ini pertama kalinya ikut keluarga istri untuk ziarah keluarga ke makam kakek buyutnya. Hikmahnya alhamdulillah jadi lebih mengenal silsilah keluarga dari istri dan juga mengenal kebiasaan di keluarganya yang menjaga tradisi untuk berziarah ke makam keluarga leluhur dan mendoakan keluarga yang telah meninggal.
Mengenal Sosok Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein Alias Mama Cimuncang
Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein adalah seorang ulama kelahiran Banten yang kemudian mendirikan pesantren di Sukabumi. Pesantren yang ia bangun diyakini sebagai pesantren pertama yang hadir di Bumi Priangan Barat ini. Itu kenapa daerah tempat ia mendirikan pesantren sampai sekarang diberi nama Kampung Pesantren di daerah Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi.
Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein yang juga dikenal dengan nama Mama Cimuncang ini pernah juga tinggal di Cianjur, namun pergerakannya selalu mendapat rintangan dari penjajah Belanda. Oleh karena itu ia berhijrah ke Sukabumi, di daerah Cimuncang dan mulai mendakwahkan Islam di daerah itu.
Mama Cimuncang menikah dengan Nyi Mas Alebah binti Abdul Wahhab, dan mereka bersama-sama menjadi keluarga yang mendedikasikan hidupnya berdakwah di jalan Allah dengan cara mendirikan lembaga pendidikan pondok pesantren. Pesantren yang ia bina adalah pesantren tasawuf yang terkenal dengan tarikatnya yaitu Qodiriyah wa Naqsabandiyyah. Tarikat sendiri adalah istilah dalam dunia tasawuf yang dapat dimaknai sebagai cara atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Di Kampung Pesantren, Mama Cimuncang dan Istri memberdayakan masyarakat sekitar tidak hanya dengan memberikan layanan pendidikan keagamaan, tetapi juga mengembangkan perekonomian masyarakat sekitar dengan membuka lahan pertanian melalui budidaya padi. Untuk pengairannya, Mama Cimuncang membuka selokan baru dari sungai Cimuncang yang ditujukan ke lahan pertanian yang baru dibuka. Atas salah satu jasanya inilah beliau mendapat julukan dari masyarakat dengan gelar Mama Cimuncang ini.
Perjalanan Menuju Makam Mama Cimuncang
Dari rumah kita berangkat pagi sekitar jam 7 untuk berangkat menuju ke komplek makam keluarga Mama Cimuncang. Kenapa kita berangkat pagi-pagi sekali? Itu karena rencananya kita akan melakukan perjalanan religi ini tidak hanya ke makam keluarga di Sukabumi saja, tetapi berlanjut ke Cibaregbeg, Cianjur, ke makam keluarga lainnya yaitu ke komplek makam keluarga Syekh Abdul Jalil.
Perjalanan dari Kadudampit menuju daerah Kebon Pedes memakan waktu lebih kurang 1 jam 30 menit. Lumayan lama walaupun kita masih di satu kabupaten yang sama, tapi maklumlah karena Kabupaten Sukabumi adalah Kabupaten terluas kedua di pulau Jawa sehingga untuk menempuh dari ujung kecamatan di utara menuju ujung kecamatan di timur memang lumayan memakan waktu.
Lamanya perjalanan tak menjadi masalah, karena sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang sangat indah dengan pemandangan hijau ala Sukabumi. Luasnya pesawahan dan juga pohon-pohon di bahu kanan kiri jalan menjadikan perjalanan kita lebih terasa adem dan sejuk.
Sesampainya di lokasi komplek makam Mama Cimuncang, kita sekeluarga besar merapalkan doa-doa, meminta kepada Allah agar para arwah keluarga kakek buyut yang telah meninggal dunia diterima di sisi Allah dan diberikan tempat paling mulia di sisi-Nya.
For your information, komplek makam Mama Cimuncang ini walaupun banyak dikunjungi para peziarah dari keluarga dan alumni santri yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat dan juga masyarakat pada umumnya, makam beliau dan keluarganya ini hanya berbentuk makam biasa pada umumnya. Hanya gundukkan tanah dengan penanda batu sebagai batu nisan saja, tanpa dispesialkan seperti beberapa tempat ziarah lainnya. Ini dilakukan untuk menjaga salah satu syariat dalam Islam yang memang tidak memperbolehkan mendirikan bangunan di atas sebuah kuburan.
Learn Lesson Ziarah ke Makam Keluarga Leluhur
Selain mengingat akan datangnya hari kematian pada kita, banyak juga hikmah lainnya yang dapat kita petik ketika ziarah, berkunjung ke makam keluarga, beberapa di antaranya seperti:
- Reminder bahwa dunia ini tidak abadi, akan ada titik yang namanya kematian
- Mengenalkan silsilah keluarga pada anggota keluarga baru seperti menantu dan juga anak-anak
- Mempererat hubungan keluarga
- menjadi motivasi untuk beramal soleh yang akan menjadi bekal kita menuju alam kubur dan alam akhirat
Perjalanan dua kota, Sukabumi dan Cianjur memang lumayan melelahkan, tetapi banyak hikmah dan pelajaran dari perjalanan religi dalam rangka ziarah ke makam leluhur keluarga ini. Salah satu pelajarannya adalah: Mereka yang meninggal dengan memberikan kemanfaatan yang banyak pada keluarga dan masyarakat berupa ilmu dan pengabdian mereka selama hidup akan terus dikenang sepanjang masa.
Jasad kita boleh tiada, tetapi nama akan abadi dan selalu ada dalam setiap doa keluarga ketika kita menjadi sosok yang luar biasa
Semoga apa-apa yang telah dilakukan oleh sosok kakek buyut Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein atau Mama Cimuncang selama hidupnya untuk mendakwahkan agama Allah di bumi Sukabumi mendapat balasan terbaik dari Allah dan juga Allah tempatkan arwahnya di tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Aamiin ya robbal aalamiin.
Demikian perjalanan keluarga besar kami ziarah ke tempat ziarah di Sukabumi, tepatnya ke makam kakek buyut Syekh Tubagus Muhammad Nur Husein di Cimuncang, Kampung Pesantren, Kebon Pedes. Teman-teman yang mau mencoba jelajah wisata religi ke sini juga bisa, jalannya paling mudah menggunakan jalan provinsi, yaitu jalan jalur lingkar selatan Sukabumi. Untuk alamat tepatnya bisa menggunakan google map sebagai panduan.
Posting Komentar